BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perusahaan makanan dan minuman, PT Indofood CBP Tbk (ICBP), mencatat peningkatan penjualan sepanjang 2016 sebesar 8,5% atau menjadi Rp34,37 triliun dari Rp31,74 triliun.

Divisi mi instan kembali menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan sekitar 64%, disusul oleh dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus serta minuman yang masing-masing memberikan kontribusi 20%, 7%, 2%, dan 5%.

Laba usaha juga meningkat 21,5% atau menjadi Rp4,86 triliun per akhir Desember 2016 dari tahun sebelumnya Rp3,99 triliun dengan marjin laba usaha terdongkrak menjadi 14,1% dari 12,6%.

Dengan demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas publik sebesar Rp3,60 triliun atau 20% lebih tinggi dari tahun sebelumnya Rp3 triliun, dengan marjin laba bersih membaik dari 9,5% menjadi 10,4%.

"Kami senang bahwa kami dapat meraih kinerja yang baik pada 2016, dengan mencatatkan pertumbuhan laba per saham yang tinggi atau Rp309 per lembar dan berhasil memperkuat posisi kategori-kategori utama kami di pasar," ujar Direktur Utama Indofood CBP, Anthony Salim, di Jakarta, baru-baru ini.

Meskipun perseroan percaya tahun ini kondisi ekonomi dalam negeri terus membaik, namun Indofood CBP tetap waspada dan hati-hati terhadap perkembangan kondisi perekonomian global serta potensi kenaikan harga komoditas, terutama minyak sawit mentah (CPO), yang dapat memengaruhi kondisi perekonomian dalam negeri serta perusahaan.

"Kami akan terus menyesuaikan strategi kami dengan perkembangan yang terjadi di pasar, sehingga dapat memberikan kinerja yang baik secara berkesinambungan di masa mendatang," jelasnya.

Sementara itu di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, Kamis (23/3/2017), futures minyak sawit untuk kontrak Juni merosot 2,1 persen menjadi 2.771 ringgit ($625,93) per ton, setelah pada sesi sebelumnya berada di level 2.839 ringgit. (NEDELYA RAMADHANI/m)