BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga referensi produk CPO untuk periode April 2017 dipatok sebesar US$762,88 per ton, turun US$63,02 atau 7,63% dari bulan sebelumnya sebesar US$825,9 per ton.
Adapun bea keluar turun menjadi US$3 per ton dari Maret 2017 sebesar US$18 per ton. Harga referensi dan bea keluar tersebut berlaku pada tanggal 1 April hingga 30 April 2017.
Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, di Jakarta, Kamis (6/4/2017), mengatakan pada kuartal II 2017, harga CPO diperkirakan cenderung mengalami penguatan karena melesatnya permintaan dan volume suplai yang masih terbatas.
"Harga diperkirakan berada di posisi 2.750 ringgit hingga 2.880 ringgit per ton pada akhir Juni 2017," ujar Putu.
Sebelumnya, Putu memperkirakan harga minyak sawit akan rebound pada kuartal II 2017 menyusul proyeksi meningkatnya permintaan menjelang Ramadhan.
"Pada kuartal I tahun ini, harga CPO terkoreksi 10,31%. Tahun lalu, harga meningkat 25% dan menembus level 3.000 ringgit per ton," katanya.
Harga CPO, ujarnya, mendapatkan sentimen positif dari proyeksi meningkatnya permintaan dari India dan negara-negara di Timur Tengah menjelang Ramadhan, sehingga dapat meredam kekhawatiran pelemahan harga seiring dengan pulihnya produksi di Indonesia dan Malaysia sebagai produsen sawit terbesar dunia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








