BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Mengawali perdagangan pekan ini (17/4/2017), harga minyak sawit mentah (CPO) kembali melemah. Penguatan ringgit kali ini menambah tekanan turun bagi minyak nabati ini.

"Sepanjang pekan lalu, harga CPO turun sekitar 4% akibat peningkatan produksi di Malaysia," kata analis dari PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, di Jakarta, Senin (17/4/2017).

Menurut Putu, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan produksi CPO menunjukkan kenaikan 16,3% menjadi 1,46 juta ton pada Maret lalu, menjadi kenaikan bulanan pertama sejak September 2016. Hal ini juga memberikan tekanan terhadap harga CPO.

Penguatan ringgit membawa CPO menyentuh level terendah 7 bulan pada perdagangan Senin ini. Mata uang ringgit menguat tajam terhadap dolar AS pada pekan lalu, dan berlanjut di awal pekan ini. Ringgit saat ini bergerak di dekat level terkuat lima bulan terhadap dolar AS.

Putu mengatakan penguatan ringgit dapat menyebabkan harga CPO menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga dapat menurunkan permintaan, yang pada akhirnya akan menekan harga.

Potensi peningkatan permintaan CPO jelang bulan Ramadan, kata Putu, dapat menjaga harga dari penurunan tajam.

"CPO kemungkinan masih akan bertahan di atas level psikologis 2.500 ringgit per ton, dan kemungkinan bergerak di kisaran 2.500 – 2.540 ringgit per ton pada hari ini," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)