BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dibandingkan kuartal IV-2016, harga minyak sawit mentah CPO pada kuartal I-2017 cenderung melemah. Apa penyebabnya?
Analis perkebunan dari Affin Hwang Capital, Nadia Aquidah, kepada The Malaysian Reserve mengatakan ada beberapa faktor yang menekan harga CPO akhir-akhir ini, tapi yang paling utama adalah faktor supply dan demand.
“Pada dasarnya, pelemahan harga CPO saat ini dipicu oleh meningkatnya produksi, terutama setelah serangan El Nino sejak 2015. Dengan meningkatnya produksi, maka pasokan ke pasar jelas meningkat," kata Nadia.
Nadia menambahkan bahwa konsumen global juga banyak yang beralih dari minyak sawit ke minyak nabati lain, seperti minyak kedelai. Ini juga menjadi faktor penekan harga minyak sawit.
“Normalnya, harga minyak kedelai lebih tinggi dari harga minyak sawit, sebab minyak kedelai dianggap sebagai minyak premium," jelasnya.
Ia memprediksi minyak kedelai masih akan tinggi produksinya, ditunjang dengan melimpahnya produksi di AS dan Brasil. Dengan demikian harga minyak kedelai akan lebih bersaing, dan ini akan menekan harga minyak sawit, yang notabene adalah minyak pesaing di pasar minyak nabati internasional.
Sementara itu, CFO IJM Plantations Bhd, Puru Kumaran, mengatakan penurunan harga CPO lebih dipicu spekulasi minor yang merebak di pasar.
“Ada spekulasi kecil yang menyebutkan produksi CPO akan meningkat, yang bakal memicu kelebihan pasokan di pasar,” ucapnya.
Kumaran mengatakan harga CPO tahun ini akan berada di kisaran RM2.500 (jika spekulasi ada peningkatan produksi CPO) dan RM2.800 (jika spekulasi itu tidak terjadi). Jadi harga akan bergantung pada pergerakan pasar dan reaksi terhadap spekulasi tadi.
Ia juga menyebut IJM Plantations memperkirakan akan memproduksi CPO antara 110.000 ton hingga 120.000 ton per tahun untuk operasional di Malaysia, sedangkan perkebunan di Indonesia akan menyumbang sekitar 80.000 ton per tahun. (NEDELYA RAMADHANI/m)








