BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tak hanya pasarnya yang besar, kekuatan finansial sejumlah perusahaan asal Tiongkok dapat dimanfaatkan perusahaan Indonesia untuk diajak kerjasama dalam mengembangkan industri kelapa sawit.
Bahkan peluang itu sudah ditangkap oleh Malaysia, yang merupakan rival berat Indonesia dalam memasok pasar global dengan minyak sawit. Sebuah perusahaan milik pemerintah Malaysia yang berbasis di Sabah, POIC Sabah Sdn Bhd., telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan beberapa perusahaan Tiongkok, yakni Tangshan Chunhua Grain & Oil Croup Co Ltd, Xinji Xinyuan Biotech Co Ltd, Top Honesty Biotechnology Co Ltd dan Utility Sugar Trading Ltd. yang bermarkas di Hong Kong.
Kerjasama yang dilakukan POIC Sabah Sdn Bhd. dengan keempat perusahaan Tiongkok tersebut adalah untuk menggarap bisnis pengolahan minyak sawit dan produk terkait lainnya, demikian seperti dilaporkan The Star, Senin (8/5/2017).
Chunhua, yang berbasis di Tangshan City, Provinsi Hebei, adalah perusahaan yang fokus pada produk-produk pertanian dan minyak nabati, terutama minyak kacang tanah. Sedangkan Xinji Xinyuan Biotech yang berkantor pusat di Xinji City, memiliki keahlian di bidang permesinan, terutama mengolah bahan-bahan limbah menjadi produk jadi.
Langkah yang dilakukan perusahaan Malaysia itu dinilai sejumlah pengamat cukup strategis. Terlebih pasar Uni Eropa sedang kurang kondusif sehubungan dengan resolusi Parlemen Eropa yang mendesak dihapuskannya penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit pada 2020 dan juga penerapan sertifikasi tunggal untuk produk sawit.
Sebelumnya, Carl Bek-Nielsen, vice-chairman dan chief executive director di United Plantations Bhd., mengatakan bahwa langkah strategis perlu segera dilakukan oleh Malaysia dan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar dunia untuk mengantisipasi penurunan permintaan minyak sawit akibat penerapan resolusi yang akan menghapus penggunaan minyak sawit sebagai bahan campuran biodiesel.
Bek-Nielsen, seperti dikutip The Edge Markets belum lama ini, menekankan bahwa untuk memenuhi standardisasi tunggal minyak sawit seperti yang dituntut Uni Eropa bukanlah hal mudah bagi kebanyakan penghasil minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. Pasalnya, mayoritas mereka adalah petani kecil alias petani plasma.
Menurut dia, saat ini diperkirakan hanya sekitar 20% minyak sawit mentah palm oil (CPO) yang diolah dengan standar tertinggi global, termasuk minyak sawit berkelanjutan terstandardisasi (CSPO). Indonesia dan Malaysia menyumbang 90% produksi CSPO.
Sementara itu, dari 58 juta ton CPO yang diproduksi siap tahun, sekitar 12 juta ton adalah CSPO.
Nah, dengan bakal semakin beratnya persyaratan untuk memasuki pasar Eropa di masa mendatang, maka melirik pasar potensial baru dan menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Tiongkok seperti yang dilakukan perusahaan asal Sabah itu patut juga dilakukan oleh perusahaan sawit asal Indonesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








