BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penguatan harga minyak sawit mentah (CPO) bisa berlanjut dengan dukungan dari sisi produksi maupun konsumsi.
"Saat ini, harga CPO terus menguat seiring dengan melemahnya nilai tukar ringgit terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang ringgit membuat harga CPO lebih murah sehingga mendorong aksi beli pelaku pasar," kata Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, dalam risetnya di Jakarta, Rabu (10/5/2017).
CPO, menurut Putu, memang mendapat sokongan dari beberapa sentimen positif. Konsumsi CPO pada bulan Ramadan selalu naik, terutama untuk memenuhi kebutuhan minyak sayur.
"Optimisme kenaikan permintaan pada bulan Ramadan juga menjadi salah satu faktor yang mengangkat harga," papar dia.
Tidak hanya menjelang bulan Ramadan, permintaan CPO hingga akhir tahun diharapkan membaik dengan dukungan program biodiesel pemerintah Indonesia.
Apalagi, pemerintah baru saja mengeluarkan kuota bagi PT Pertamina dan PT AKR Corporindo untuk menjual 1,37 juta kiloliter biodiesel pada periode Mei hingga Oktober 2017. Pertamina akan mendapat pasokan biodiesel sebesar 1,35 juta kiloliter dari 19 produsen, sedangkan AKR akan menerima pasokan sebesar 240.000 kiloliter dari tujuh produsen.
Di saat permintaan membaik, angka produksi justru berpotensi turun. Sebab, hujan deras di Kalimantan kemungkinan akan mengganggu produksi CPO Indonesia yang merupakan produsen terbesar di dunia.
Dengan dukungan sentimen positif, Putu memperkirakan harga CPO hingga akhir semester pertama dapat menanjak ke RM2.740 hingga RM2.800 per metrik ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








