BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pada Selasa (16/5/2017) berpeluang menguat karena sentimen pasar yang masih bullish bersamaan dengan tingginya angka ekspor menjelang Ramadhan.

Selain itu, sentimen positif lainnya untuk menopang kenaikan harga CPO adalah menguatnya harga minyak kedelai serta melonjaknya harga minyak mentah dunia usai Arab Saudi dan Rusia mengatakan bahwa pengurangan produksi akan berlangsung hingga Maret 2018.

"Namun demikian, yang berpeluang menjadi penahanan kenaikan harga CPO lebih lanjut adalah masih solidnya pergerakan ringgit Malaysia," kata analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Selasa.

Untuk diketahui, volume ekspor CPO Indonesia pada kuartal pertama naik menjadi 8,02 juta ton, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,49 juta ton.

Di sektor energi, minyak mentah mengalami kenaikan setelah Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih dan Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan langkah pengurangan produksi minyak akan diperpanjang hingga 2018.

Untuk mata uang ringgit, pada Selasa pukul 10:22 WIB bergerak di level 4,3110 per dolar AS, menguat sekitar 0,3%. Ringgit yang lebih kuat akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk para pemegang mata uang lainnya.

Menurut Faisyal, level resisten terdekat harga CPO berada di level 2.700, dan jika menembus ke atas level tersebut, maka harga berpotensi menguji level yang lebih tinggi lagi di level 2.730.

"Sementara untuk level support-nya berada di 2.650, dan bila menembus ke bawah dari zona tersebut, harga berpeluang melemah lebih lanjut mengincar support yang lebih rendah di level 2.625," imbuhnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)