BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit pada Rabu (17/5/2017) berpeluang melemah dalam jangka pendek di tengah kejatuhan harga minyak mentah setelah data dari AS menunjukkan kenaikan cadangan minyak mentah.
"Selain itu, yang berpeluang menurunkan harga CPO adalah masih menguatnya ringgit terhadap greenback (dolar AS)," kata analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Rabu (17/5/2017).
Pada akhir perdagangan Selasa, American Petroleum Institute melaporkan bahwa cadangan minyak mentah AS naik 882.000 barel pada pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi penurunan sebesar 2,3 juta barel serta data sebelumnya yang menunjukkan penurunan sebanyak 5,8 juta barel.
Sementara untuk mata uang ringgit pada Rabu pagi ini (pukul 10:00 WIB) bergerak di level 4.3140 per dolar AS, menguat sekitar 0,15%. Mata uang ringgit yang menguat akan menekan daya beli para pemegang mata uang lainnya.
Untuk teknikalnya, menurut Faisyal, harga CPO kemungkinan akan bergerak netral di antara area 2.575 – 2.615 ringgit per ton, sehingga diperlukan menembus salah satu sisi untuk mendapatkan petunjuk lanjutan.
Untuk sisi atasnya, jika menembus level 2.615, maka harga berpeluang menguji level resisten selanjutnya di 2.660.
"Sementara untuk sisi bawahnya, dengan menembus ke bawah level 2.575, maka harga berpotensi melemah lebih lanjut membidik ke area 2.540," tutur Faisyal. (NEDELYA RAMADHANI/m)








