BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pada Jumat (19/5/2017) berpeluang melemah seiring kejatuhan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade dan minyak nabati lain di Dalian Commodity Exchange, Tiongkok, Kamis.
Sebagian besar perusahaan berbasis komoditas, yang termasuk harga minyak kedelai AS, melemah ke wilayah negatif di indeks Dow Jones di bursa saham AS. Indeks Dow Jones mencetak penurunan harian terbesar sejak September menyusul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mencoba untuk campur tangan terhadap penyelidikan federal.
Namun dengan para pelaku pasar yang memperkirakan permintaan CPO akan naik, menurut analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Jumat, diperkirakan akan membatasi pelemahan pada harga CPO, seiring dengan tingginya pengiriman ekspor menjelang Ramadhan.
Untuk fundamental lainnya yang berpotensi melemahkan harga CPO adalah penguatan mata uang ringgit Malaysia terhadap dolar AS. Hingga pukul 10:10 WIB, terpantau nilai tukar ringgit berada di level 4,250 per dolar AS, menguat sekitar 0,1%. Ringgit yang lebih kuat akan membuat minyak sawit menjadi lebih mahal untuk para pemegang mata uang lainnya.
"Secara teknikal, harga minyak sawit memiliki level resisten terdekat di 2.660 ringgit per ton. Menembus ke atas dari area tersebut, maka harga berpeluang naik lebih tinggi lagi mengincar area 2.690," tutur Faisyal.
Untuk sisi bawahnya, katanya, level support terdekat berada di level 2.615, dan bila menembus ke bawah dari area tersebut, maka harga berpeluang melemah lebih lanjut untuk menguji level support di 2.575. (NEDELYA RAMADHANI/m)








