BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah turun tajam pada Selasa, harga CPO dibuka melemah pada perdagangan Rabu (24/5). Penguatan ringgit Malaysia masih terus menekan turun harga CPO, sementara proyeksi kenaikan tingkat produksi menambah tekanan turun.
"Penurunan harga minyak jagung dan kedelai di AS juga menjadi faktor negatif bagi harga CPO hari ini, sementara harga minyak mentah nampak cukup kuat menjelang pertemuan OPEC yang diharapkan akan berujung pada perpanjangan kesepakatan untuk memangkas produksi, meski adanya proposal Gedung Putih untuk menjual separuh dari cadangan bensin AS," demikian riset PT Monex Investindo Futures di Jakarta, Rabu.
Ringgit menguat ke level tertinggi dalam 6 bulan terhadap dollar AS pada Selasa. "Penguatan ringgit akan membuat CPO lebih mahal bagi pembeli dalam mata uang lain," tulis riset tersebut.
Pelaku pasar mengatakan bahwa penurunan tajam harga CPO juga dipicu oleh penurunan harga minyak nabati lain di Dalian Commodity Exchange, Tiongkok, serta koreksi menyusul kenaikan tajam pada sesi sebelumnya.
Output minyak sawit di Malaysia naik 5,7% dari bulan sebelumnya menjadi 1,5 juta ton pada April. Produksi diperkirakan akan meningkat lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan, sesuai dengan tren musiman dan seiring pudarnya dampak dari El Nino.
Menyusul gap turun, harga CPO pada bursa derivatif Malaysia berpotensi menguji support di kisaran 2.540 ringgit per ton sebelum menuju support di kisaran 2.450. Potensi range berkisar antara 2.450 – 2.630.
Sementara di bursa Indonesia, harga CPO berpotensi bergerak di kisaran Rp9.140 – 9.600 per kg. (NEDELYA RAMADHANI/m)








