BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Proyeksi peningkatan produksi dan panen sawit Indonesia tahun ini dinilai akan menekan harga minyak sawit mentah (CPO), yang pada 2016 menguat dari US$558 menjadi US$789 per ton.
Namun pelemahan harga CPO tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama, kecuali minyak nabati pesaing, seperti minyak kedelai, tidak mengalami tekanan akibat dari peningkatan produksi di kawasan Amerika.
Ekspektasi peningkatan produksi dan kompetisi harga dari minyak nabati lain, dinilai akan menekan harga CPO Indonesia pada kuartal pertama hingga kuartal kedua 2017. Adapaun harga CPO turun menjadi US$722 per ton pada awal Maret lalu, sebelum kembali menguat menuju level US$765 pada akhir bulan yang sama.
Tetapi, sekali lagi, tren penguatan itu juga tidak berlangsung lama seiring dengan meningkatnya produksi dan melemahnya harga minyak nabati lain, demikian perkiraan dari perusahaan konsultan Commtrendz awal pekan ini.
Sementara itu, CEO dari PT Triputra Agro Persada, Arif Rachmat, mengatakan bahwa sektor sawit saat ini membutuhkan dukungan dari peningkatan permintaan untuk biofuel di dalam negeri. Dengan demikian, fluktuasi harga CPO yang dipengaruhi oleh pasar internasional akan dapat diredam.
Adapun para pemimpin perusahaan sawit nasional telah menjalin pembicaraan dengan sejumlah pejabat pemerintah untuk membahas potensi peningkatan permintaan biodiesel melalui public service obligation (PSO), yaitu penjualan biodiesel bersubsidi melalui perusahaan milik pemerintah, seraya meningkatkan penjualan biofuel ke peritel swasta.
“Kami ingin meningkatkan konsumsi domestik menjadi dua kali lipat. Tapi jika konsumsi dapat meningkat dari 3,5 juta menjadi lima juta ton, itu akan menjadi pencapaian hebat bagi biofuel non-PSO,” katanya.
Menurut dia, bila penjualan biodiesel non-PSO meningkat signifikan, maka tren pelemahan harga CPO akibat peningkatan produksi dapat diredam dan ke depan harga CPO diyakini akan terus stabil. (NEDELYA RAMADHANI/m)








