BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sejumlah analisis menyebutkan harga minyak sawit mentah (CPO) akan mengalami tekanan seiring dengan meningkatnya produksi di Indonesia dan Malaysia.
Bahkan CIMB Futures dalam surveinya yang diterima, Selasa (6/6), menyebutkan produksi selama Mei mencapai level tertinggi sepanjang tahun ini sejak 2015.
Namun demikian, pertumbuhan produksi minyak sawit diprediksi akan turun bulan ini karena banyak pekerja di perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia akan mengambil libur selama perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Produksi kemungkinan turun tipis sebesar 2% hingga 3% pada saat para pekerja perkebunan mengambil hak libur Lebaran. Kondisi ini diyakni dapat membantu mendongkrak harga CPO,” kata Donny Khor, deputi direktur futures dan komoditi di RHB Investment Bank Bhd.
Harga minyak sawit untuk pengiriman Agustus ditutup di level RM2.499 (US$586) per ton di Bursa Malaysia Derivatives, Selasa.
Khor memperkirakan harga minyak sawit akan bergerak di kisaran RM2.450 hingga RM2.650 dalam jangka pendek.
Pada Mei, harga minyak sawit turun menjadi lima bulan berturut-turut, yang merupakan rentetan pelemahan bulanan terlama sejak 2005, terkait dengan meningkatnya produksi di Malaysia dan Indonesia setelah pulih dari dampak El Nino. (NEDELYA RAMADHANI/m)








