BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Secara teknikal, level resisten terdekat harga minyak sawit mentah (CPO) terlihat di area 2.515.

Apabila menembus ke atas dari level tersebut, maka harga berpeluang naik lebih lanjut untuk menguji level resisten selanjutnya di 2.545, kata analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Rabu (7/6/2017).

"Sedangkan untuk sisi bawahnya, area 2.460 adalah level support terdekat. Bila menembus ke bawah dari zona tersebut, maka harga berpeluang melemah lebih lanjut untuk mengincar ke area support kuat di 2.430," lanjut Faisyal.

Menurut dia, harga CPO pada perdagangan Rabu (7/6/2017) berpotensi menguat, dengan dukungan sentimen kenaikan harga minyak kedelai serta melemahnya mata uang ringgit Malaysia terhadap dolar AS.

Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade pada Selasa (6/6) ditutup naik 0,3% dan untuk kontrak minyak kedelai periode September di Dalian Commodity Exchange menguat 0,5%.

Sementara untuk pergerakan mata uang ringgit, pada Rabu pukul 10:24 WIB terpantau di level 4,2670 per dolar AS, melemah sekitar 0,1%. Mata uang ringgit yang melemah akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih murah untuk para pemilik mata uang lainnya.

"Namun yang berpotensi akan membatasi kenaikan harga minyak sawit pada hari ini adalah laporan estimasi median dari delapan pengusaha perkebunan, trader, dan analis yang disurvei oleh Bloomberg, yang menunjukkan bahwa cadangan naik 0,6% di bulan Mei dari bulan lalu menjadi 1,61 juta ton," kata Faisyal.

Perkiraan stok minyak sawit naik berkisar antara 1,55 juta ton hingga 1,70 juta ton, dengan dua responden perkirakan cadangan akan turun. (NEDELYA RAMADHANI/m)