BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pada perdagangan Kamis (8/6/2017) berpotensi melanjutkan pelemahannya, terbebani oleh perkiraan kenaikan produksi, turunnya permintaan ekspor dan menguatnya mata uang ringgit Malaysia.
"Produksi minyak sawit Malaysia terlihat menguat di semester kedua tahun ini karena permintaan musiman dan produksi juga terlihat pulih dari dampak rusaknya kebun akibat El Nino," kata analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Kamis.
Hasil survei Reuters menunjukkan produksi bulan Mei kemungkinan naik 5,5% menjadi 1.63 juta ton dari bulan sebelumnya. Sedangkan hasil survei lain menunjukkan jumlah ekspor selama Mei naik 13,6% pada tingkat bulanan menjadi 1,46 juta ton, karena permintaan tinggi menjelang Ramadhan.
Namun, para trader mengatakan bahwa ekspor pada Juni kemungkinan akan turun seiring meredanya permintaan setelah Ramadhan. Juga disebutkan bahwa cadangan diperkirakan akan naik seiring dengan perkiraan produksi akan lebih tinggi dari permintaan.
Untuk pergerakan mata uang ringgit, pada Kamis pukul 10:45 WIB terpantau menguat 0,1% ke level 4,2600 per dolar AS. Ringgit yang menguat akan melemahkan daya beli bagi para pemilik mata uang lainnya.
Secara teknikal, harga minyak sawit di posisi 2.435 akan menjadi level support terdekat, dan apabila menembus ke bawah dari area tersebut, maka harga berpeluang turun lebih rendah lagi menguji level support selanjutnya di 2.400.
"Untuk sisi atasnya, harga 2.470 menjadi level resisten terdekat, break ke atas dari zona tersebut dapat memicu kenaikan lebih lanjut untuk menguji ke level yang lebih tinggi di 2.500," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








