BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Memasuki perdagangan medio pekan ini, harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang melanjutkan pelemahannya akibat sentimen negatif beberapa faktor, terutama nilai tukar ringgit Malaysia.

Harga CPO dibuka dekat level rendah 10-bulan pada perdagangan Rabu (14/6/2017) akibat tertekan oleh penguatan ringgit Malaysia terhadap dolar AS.

Selain itu, ekspektasi kenaikan output serta pelemahan tingkat ekspor ikut menambah tekanan turun terhadap harga minyak sawit, kata Departemen Riset PT Monex Investindo Futures di Jakarta, Rabu (14/6/2017).

Ringgit Malaysia diperdagangkan dekat level paling kuat dalam sepekan (4,2570), dan berada di kisaran 4,2610 pada pukul 10.34 WIB. Penguatan ringgit akan menekan harga CPO yang dinilai dalam ringgit, mengingat harga akan semakin mahal bagi konsumen dengan mata uang lain.

Data dari regulator industri Malaysian Palm Oil Board menunjukkan suplai di akhir bulan Mei turun 2,6% dari bulan sebelumnya menjadi 1,56 juta ton, sementara produksi naik 6,9% menjadi 1,65 juta ton. Untuk tingkat ekspor mencatat kenaikan sebesar 17,3% menjadi 1,51 juta ton.

Data lainnya dari Intertek Testing Services menunjukkan ekspor CPO Malaysia pada periode 1-10 Juni bertumbuh dengan laju yang lebih kecil yakni sebesar 5,8%, dan data Societe Generale de Surveillance menunjukkan kenaikan sebesar 2,2% untuk periode yang sama.

Secara teknikal, harga CPO masih dalam tekanan turun selama berada di bawah resisten 2.540 ringgit per ton, dan penembusan ke bawah level support 2.410 berpotensi melanjutkan tekanan turun untuk menguji level 2.315. (NEDELYA RAMADHANI/m)