BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Saat ini harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan melanjutkan tren penguatan meski akan bergerak terbatas akibat lesunya harga minyak mentah dunia.
Secara teknikal, pergerakan naik harga CPO akan dihadang oleh resisten 2.540 ringgit per ton, sementara untuk pergerakan turun, diperlukan break ke bawah 2.410 untuk melanjutkan pergerakan turun menuju level 2.315, demikian proyeksi Departemen Riset PT Monex Investindo Futures yang dilansir di Jakarta, Kamis (15/6/2017).
Ditutup menguat pada Rabu (14/6/2017), harga CPO dibuka di level yang kuat pada perdagangan Kamis ini, menjauh dari level rendah dalam sebulan, mengikuti pergerakan naik harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade dan Dalian Commodity Exchange.
Namun di sisi lain, penurunan tajam harga minyak mentah menyusul laporan kenaikan suplai berpotensi membatasi kenaikan harga CPO. Harga minyak turun dari level $46 per barel ke level $44,70 saat ini, setelah EIA yang hanya melaporkan penurunan suplai sebanyak 1,7 juta barel.
Faktor positif lainnya datang dari pelemahan ringgit pada perdagangan Kamis ini. Dibuka menguat di kisaran 4,2530, ringgit melemah ke level 4,2535 per dollar dan berpotensi melanjutkan pelemahan seiring performa dolar AS yang menguat usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve semalam.
Intertek Testing Services melaporkan ekspor CPO Malaysia dalam periode 1-15 Juni mencapai 508.960 ton dari 617.697 ton pada periode 1-15 Mei, atau turun sebesar 17,6%.
"Penurunan ekspor akan menjadi indikator lemahnya tingkat permintaan CPO dan berpotensi menekan harga CPO turun," menurut Departemen Riset PT Monex.
Investor saat ini akan menantikan rilis data ekspor Malaysia dari Societe Generale de Surveillance. (NEDELYA RAMADHANI/m)


