BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren pelemahan harga minyak sawit mentah sejak awal tahun ini telah memicu proyeksi beragam dari sejumlah analis terkait kinerja perusahaan perkebunan.
Beberapa anlis perkebunan, seperti dikutip The Star, mengatakan melemahnya harga CPO belakangan ini tidak akan berdampak negatif terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan dalam jangka pendek, meskipun sejumlah analis menurunkan proyeksinya atau netral untuk kinerja beberapa perusahaan perkebunan.
Analis Public Investment Bank asal Malaysia, Chong Hoe Leong, memproyeksikan harga CPO di kisaran RM2.500 per ton untuk tahun ini, dan harga akan turun menuju level RM2.300 hingga RM2.400 dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan meningkatnya produksi.
“Hal ini karena mulai Juni, sebagian besar pohon sawit telah mengalami siklus produksi tinggi, meski permintaan normal. Sedangkan untuk stok diprediksi meningkat hingga akhir tahun ini (baik di Indonesia maupun Malaysia)," katanya.
Menurut Chong, dampak penurunan harga CPO terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan akan minimal. Pasalnya, selama kuartal pertama tahun ini, kinerja sejumlah perusahaan perkebunan positif, dan itu akan berlanjut hingga kuartal kedua.
Sementara itu, analis OCBC Bank, Barnabas Gan, menyatakan pihaknya telah menurunkan proyeksi harga CPO menjadi RM2.250 per ton pada akhir tahun ini, dari RM2.650 per ton pada Mei.
Begitu juga dengan analis UOB Kay Hian yang menurunkan harga saham perusahaan perkebunan seiring dengan melemahnya harga CPO, yang diprediksi berlanjut hingga tahun depan akibat meningkatnya produksi. (NEDELYA RAMADHANI/m)








