BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Permintaan terhadap minyak sawit mentah (CPO) diprediksi meningkat di sejumlah negara yang sensitif terhadap harga, seperti Tiongkok dan India.
Hal itu didasarkan pada fakta bahwa selisih harga CPO terhadap kompetitor utamanya, yakni minyak kedelai, diperkirakan melebar sekitar US$70 hingga US$100 per ton setelah hampir tak ada selisih selama Februari, kata beberapa analis pasar komoditas yang dikutip Reuters.
Menurut para analis itu, ketika selisih harga semakin melebar, maka permintaan terhadap CPO diperkirakan akan semakin meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Terutama di Tiongkok dan India yang sensitif terhadap harga, kian rendahnya harga CPO akan menjadikannya sebagai alternatif penting bagi minyak kedelai.
Hingga saat ini, selisih harga CPO terhadap minyak kedelai secara bertahap terus melebar menjadi sekitar US$75 hingga US$80 per ton.
Perusahaan riset Kenanga Research menyebutkan dengan kian turunnya harga CPO belakangan ini, yang memicu selisih harga dengan minyak kedelai semakin melebar, akan mendorong peningkatan permintaan terhadap CPO. Imbasnya, harga CPO akan terdorong naik kembali.
“Meski selisih harganya lebih rendah dari rata-rata historikal jangka panjang yang sekitar US$140 per ton, selisih yang lebih besar ini jelas menarik bagi pasar yang sensitif terhadap harga,” tulis Kenanga Research. (NEDELYA RAMADHANI/m)








