BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) dibuka di level 2.592 pada Rabu (12/7/2017), melanjutkan pelemahannya dari level tertinggi tujuh pekan yang dicapai pada awal perdagangan Selasa.
Tekanan terhadap harga CPO berasal dari ekspektasi naiknya produksi minyak sawit pada Juli, kata analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra dalam risetnya di Jakarta, Rabu.
Menurut Putu, harga CPO berpotensi turun seiring pasar memperkirakan produksi minyak sawit Malaysia pada Juli akan meningkat dari 1,51 juta ton yang diraih pada Juni, dengan beberapa analis mengatakan produksi akan naik sekitar 15%.
Sementara itu, katanya, faktor lain yang mendukung penurunan juga datang dari lemahnya permintaan.
Intertek Testing Services melaporkan bahwa pengiriman minyak sawit dari Malaysia, selama periode 1-10 Juli turun 1,9% dari periode yang sama pada Juni.
"Faktor lain yang dapat membebani harga CPO adalah menguatnya ringgit," imbuh Putu.
Pada Rabu pukul 09:50 WIB, mata uang ringgit menguat sekitar 0,1% di level 4,2935 per dolar AS. Mata uang ringgit yang menguat akan membuat harga minyak sawit lebih mahal untuk pemilik mata uang utama lainnya.
Untuk teknikal, CPO diperkirakan akan diperdagangkan di kisaran 2.560 – 2.600.
Sedangkan untuk level supportnya, kata Putu, jika menembus ke bawah dari level 2.560 dapat memicu pergerakan turun lebih lanjut menguji ke level support di 2.535, dan untuk sisi atasnya, menembus atas level 2.600 dapat mendorong harga untuk lebih tinggi lagi menuju ke 2.630. (NEDELYA RAMADHANI/m)








