BORNEONEWS, Pangkalan Bun  -Harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang untuk melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Jumat (14/7/2017).

Kemungkinan itu terjadi setelah harga komoditas ini dibuka lebih rendah di level 2.540 ringgit per ton akibat sentimen negatif dari kejatuhan harga minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai di Chicago Board of Trade, kata analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Jumat.

Faktor lainnya yang dapat mendorong pelemahan harga CPO, menurut Faisyal, adalah potensi kejatuhan harga minyak mentah, di mana minyak West Texas Intermediate (WTI) pada awal perdagangan Jumat dibuka sedikit lebih rendah di level $46,05 di balik kecemasan pasar terhadap tingginya jumlah produksi global setelah adanya laporan dari International Energy Agency.

Sementara itu, untuk sentimen positif bagi harga CPO, ujarnya, kemungkinan datang dari pelemahan ringgit Malaysia. Pada pukul 10:36 WIB, ringgit terpantau melemah sekitar 0,1% di level 4,2940 per dolar AS. Ringgit yang lebih lemah akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih murah.

"Harga CPO kemungkinan akan bergerak di antara level 2.515 – 2.560. Jika harga bergerak menembus ke bawah level 2.515, harga berpeluang melemah lebih lanjut menguji support di 2.485," ulas Faisyal.

Sedangkan untuk sisi atasnya, jika menembus ke atas level 2.560 harga berpeluang menguat lebih lanjut untuk menargetkan ke level resisten selanjutnya di 2.640. (NEDELYA RAMADHANI/m)