BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi kembali melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Selasa (18/7/2017) setelah dibuka sedikit menguat ke level 2.546 ringgit per ton.
Kondisi itu dipengaruhi oleh sentimen ekspektasi kenaikan produksi, menguatnya ringgit serta jatuhnya harga minyak mentah WTI, kata analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Selasa.
Seorang pelaku pasar di bursa berjangka di Kuala Lumpur mengungkapkan bahwa penurunan harga minyak sawit saat ini karena ekspektasi pasar terhadap adanya kenaikan produksi. Ia juga mengatakan produksi untuk bulan ini kemungkinan besar akan meningkat.
Sementara itu, pelaku pasar lainnya juga mengatakan bahwa yang dapat membebani harga minyak sawit adalah penguatan ringgit Malaysia. Pada Selasa pukul 10:10 WIB, ringgit terpantau di level 4,280 per dolar AS, menguat sekitar 0,1%. Ringgit yang menguat dapat membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.
Faktor lainnya yang berpeluang dapat membebani harga minyak sawit adalah potensi kejatuhan harga minyak mentah WTI, setelah dilaporkan produksi minyak Libya hampir 1 juta barel per hari.
"Potensi perdagangan minyak sawit pada hari ini berada di antara level 2.520 – 2.580. Untuk sisi bawahnya, menembus ke bawah level 2.520, harga berpeluang bergerak lebih rendah lagi menguji support di 2.500. Dan untuk sisi atasnya, jika menembus atas level 2.580, harga berpeluang naik lebih tinggi mengincar resisten di 2.605," sebut Faisyal. (NEDELYA RAMADHANI/m)








