BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penurunan harga CPO berpotensi berlanjut pada perdagangan Rabu (30/8/2017), meskipun dibuka sedikit lebih tinggi di level 2.724 ringgit per ton.
Pemicunya adalah karena masih dibebani oleh sentimen kejatuhan harga minyak nabati serta aksi profit taking investor menjelang libur panjang. Namun penurunan kemungkinan terbatas seiring melemahnya mata uang ringgit, kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Rabu.
Harga kontrak minyak kedelai untuk bulan Oktober di Chicago Board of Trader anjlok sebesar 1% pada Selasa, sementara kontrak minyak kedelai pada Januari di Dalian Commodity Exchange juga turun sebesar 1%.
Untuk diketahui, pasar di Bursa Malaysia Derivatives Exchange akan ditutup pada Kamis dan Jumat untuk hari libur.
Trader di Kuala Lumpur mengatakan bahwa biasanya menjelang hari libur akan terjadi beberapa aksi profit taking, terutama ketika pasar di Dalian dan minyak kedelai juga melemah.
Sementara itu, untuk pergerakan ringgit hingga pukul 10:58 WIB berada di level 4.2680 per dolar AS, melemah sekitar 0,1%. Mata uang ringgit yang lemah akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih murah untuk pemilik mata uang lainnya.
Dalam jangka pendek, kata Faisyal, harga minyak dapat turun menguji level support di 2.675.
"Jika break ke bawah dari zona tersebut harga dapat melanjutkan pelemahannya menguji support di 2.650. Untuk sisi sebaliknya, jika harga menguat akan menguji level resisten terdekat di 2.735 sebelum targetkan resisten kuat di 2.770," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








