SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Hingga kini belum diketahui apa motif dari aksi pembunuhan yang dilakukan oleh MD (36) terhadap adik iparnya Darman (44). Namun diduga kuat aksi itu dilakukan pelaku karena adanya perdebatan masalah ilmu gaib.

Dari data yang dihimpun Borneonews.co.id dari keluarga dan istri korban, pelaku memang mempercayai ilmu gaib. Sehingga hal itulah yang sering memunculkan perdebatan antara pelaku dan korban. Karena Darman tidak percaya dengan hal-hal seperti yang dipelajari oleh pelaku.

"Kalau selisih paham ada, tapi itu sekitar dua tahun lalu dan itu juga masalah ilmu gaib dan kemungkinan besar itulah yang menjadi penyebab pelaku nekat membunuh korban," ujar Sugian, paman korban, Kamis (26/10/2017).

Namun hingga kini masih belum jelas ilmu gaib apa yang dipelajari oleh pelaku. Namun dari perdebatan yang sering didengar yakni ilmu tersebut bisa membuat burung walet cepat masuk dan bersarang ke gedung yang baru dibuat.

Tapi hal itu sama sekali tidak dipercayai korban hingga muncullah perdebatan antara keduanya. Selain itu dari informasi yang didapat, pelaku nekad membunuh karena ada bisikan gaib kepada dirinya.

Yang mana masalah yang dihadapi tersangka adalah kiriman gaib dsri korban, sehingga korban harus dilenyapkan.

Sehingga malam itu juga pelaku langsung berangkat dari rumahnya di Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara ke rumah kornan di Desa Kelampan, Kecamatan Pulau Hanaut.

Sesampainya di rumah korban, dia langsung menggedor teras untuk memancing korban keluar dari rumah. Sehingga setelah korban membuka horden kaca jendela, pelaku langsung menyerangnya dengan tombak hingga tewas.

Selain itu saat beraksi menghabisi korban pelaku mengenakan topeng. Setelah menbunuh korban, pelaku kemudian membuka topengnya dan memegang tangan korban serta sempat menyampaikan permintaan maaf.

Namun saat itu nyawa korban sudah tidak tertolong lagi. Korban kemudian dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit untuk divisum. Jenazah kemudian dibawa ke kampung halamannya di Desa Natai Baru untuk dimakamkan. (MUHAMMAD HAMIM/B-6)