BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Jumat (10/11/2017), pasar sepertinya dirundung sentimen negatif dari melambatnya outlook ekspor sawit, yang akan berimbas pada jatuhnya harga minyak sawit.
"Investor menantikan data dari Intertek Testing Services dan Societe Generale Surveillance yang akan dirilis siang nanti, dengan ekspektasi ekspor CPO untuk 10 hari pertama bulan November akan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama bulan Oktober," kata tim analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Jumat.
Menurut mereka, tingkat konsumen CPO biasanya mengalami penurunan di kuartal terakhir setiap tahunnya saat belahan bumi bagian utara memasuki musim dingin, menekan tingkat permintaan dari konsumen besar seperti Tiongkok dan Eropa, mengingat CPO akan membeku pada temperatur dingin.
Faktor negatif lainnya bagi harga CPO adalah penurunan harga minyak kedelai dan penguatan ringgit. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,3%, sedangkan ringgit menguat 0,5% ke level 4,2050 per dollar pada Kamis, level terkuat dalam lebih dari sebulan.
"Secara teknikal, harga CPO masih berpotensi menguji support di kisaran 2.710 ringgit per ton sebelum menguji support kunci 2.670," kata Monex.
Untuk pergerakan naik, rilis data ekspor dari ITS dan SGS yang positif berpotensi membuka peluang untuk kembali menguji resisten 2.830 dan 2.890. (NEDELYA RAMADHANI/m)








