BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi kembali tertekan pada Jumat (24/11/2017) setelah kemarin berakhir melemah untuk mencetak penurunan keempat dalam lima sesi terakhir.
"Fokus terbesar investor pada hari ini akan tertuju pada prospek kenaikan produksi dan penurunan nilai kontrak minyak kedelai," kata Analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Jumat (24/11/2017).
Berdasarkan data dari regulator industri, Malaysia terakhir terlihat membukukan kenaikan produksi sebesar 12,9% pada Oktober.
Produksi minyak sawit biasanya akan menurun menjelang akhir tahun setelah mencapai puncaknya pada Agustus atau September. Namun masih berlangsungnya dampak dari fenomena cuaca kering yang disebabkan El Nino pada 2015, kata Faisyal, dapat menyebabkan tertundanya pola musiman tahun ini.
Nilai kontrak minyak kedelai untuk periode Januari di Dalian Commodity Exchange turun 0,2% pada perdagangan Kamis.
"Untuk rentang pergerakan dalam jangka pendek terlihat di area 2.500 - 2.560 ringgit per ton," ucap Faisyal.
Jika menembus ke bawah dari level 2.500, menurut dia, dapat memicu penurunan lebih lanjut untuk menguji ke level support selanjutnya di 2.475. Dan untuk sisi atasnya, menembus ke atas dari area 2.560 dapat mengubah tren menjadi bullish untuk menguji level resisten selanjutnya di 2.590. (NEDELYA RAMADHANI/m)








