BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pulih dari level rendah pada Jumat (24/11/2017), berkat performa harga minyak mentah yang apik dan koreksi pada nilai tukar ringgit Malaysia.

"Kenaikan harga minyak mentah berkat penutupan salah satu jalur pipa pengiriman dari Kanada menuju Amerika Serikat memberikan imbas positif bagi harga CPO," kata Tim Riset PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Di sisi lain, kata tim Monex, kenaikan harga minyak kedelai pada Dalian Commodity Exchange di China juta turut memberikan dorongan naik.

Ringgit Malaysia terpantau melemah sebesar 0,3% ke level 4,1155 pada Jumat malam, menjauh dari level terkuat dalam lebih dari setahun pada sesi sebelumnya.

Malaysia kini tengah berusaha untuk menentang resolusi Uni Eropa terkait CPO yang dinilai diskriminatif. Uni Eropa sendiri merupakan importir terbesar CPO Malaysia setelah India, yang mencapai 1,26 juta ton tahun lalu.

Pasar akan menantikan rilis data ekspor CPO Malaysia periode 1-30 November oleh Intertek Testing Services dan Societe Generale Surveillance pada 30 November nanti.

"Secara teknikal, harga CPO sedang mencoba pulih kembali ke atas level 2.575 ringgit per ton. Penembusan ke atas level tersebut dapat melanjutkan pemulihan naik ke level 2.670," imbuh tim Monex.

Sementara itu, menurut mereka, support kuat ada pada level 2.500, dan hanya break ke bawah area ini yang dapat melanjutkan outlook bearish menuju 2.430 dalam waktu dekat.