BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga CPO turun hampir 1% pada sesi perdagangan Senin (18/12/2017) akibat aksi profit-taking investor menyusul kenaikan tajam pada sesi sebelumnya.
"CPO berada dalam tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir, akibat sentimen melemahnya permintaan dan tingginya suplai," kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Selasa (19/12/2017).
Meski demikian, kata Monex, output CPO biasanya berkurang setiap akhir tahun sebelum kembali naik di kuartal kedua. Output CPO bulan November turun sebesar 3,3% menjadi 1,94 juta ton, menurut data terkini dari Malaysian Palm Oil Board.
Di sisi lain, ekspor CPO Indonesia, terutama menuju Pakistan dan India, dilaporkan mengalami penurunan pada Oktober.
Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Togar Sitanggang mengatakan bahwa jumlah ekspor CPO pada Oktober mencapai 1,6 juta ton, turun sekitar 5,6% dari bulan September.
Setelah penurunan, cadangan CPO Indonesia mencapai 3,38 juta ton pada Oktober, naik sebesar 16% dari cadangan September. Turunnya ekspor menuju Pakistan dan India disebut-sebut Togar disebabkan oleh kenaikan ekspor kacang kedelai dan juga kenaikan bea impor di India.
Namun ia masih optimistis volume ekspor CPO akan segera pulih, dan memperkirakan tingkat permintaan CPO global akan meningkat seiring penurunan suplai minyak kedelai dunia.
"Secara teknikal, outlook masih bearish namun diperlukan break ke bawah 3.200 ringgit per ton untuk melanjutkan pergerakan turun. Untuk sisi atas, harga CPO berada dalam fase rebound bullish, mencoba kembali ke level 2.570," sebut Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)








