BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga CPO berpeluang melemah pada hari terakhir perdagangan tahun 2017 karena adanya potensi profit taking, melemahnya harga minyak nabati lainnya serta prospek solidnya pergerakan ringgit.
Harga CPO pada Kamis (28/12/2017) berakhir melemah 0,7% di level 2.521 ringgit per ton di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, melemah untuk pertama kalinya dalam empat hari terakhir.
Seorang trader di Kuala Lumpur mengatakan bahwa pelemahan harga CPO disebabkan masih sangat tingginya cadangan pada akhir tahun serta turunnya nilai minyak kedelai di Chicago Board of Trade.
Nilai kontrak minyak kedelai untuk bulan Maret di Chicago Board of Trade kemarin berakhir turun 0,2%.
Untuk pergerakan ringgit pada pukul 10:49 WIB terpantau di level 4.0620 per dolar AS, menguat sekitar 0,08%. Ringgit yang menguat akan membuat harga CPO menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.
"Untuk potensi pergerakannya, jika harga bergerak naik akan menguji level 2.480 sebagai level resisten terdekat, menembus ke atas dari zona tersebut dapat memicu kenaikan lanjutan untuk membidik ke area 2.520," kata Analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Jumat (29/12/2017).
Sementara itu, kata Faisyal, untuk sisi bawahnya, area 2.430 menjadi level support terdekat, dan bila menembus bawah dari level tersebut akan membawa harga untuk bergerak lebih rendah lagi untuk menuju ke area 2.400. (NEDELYA RAMADHANI/m)








