BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kinerja industri kelapa sawit pada 2018 diperkirakan semakin bersinar seiring proyeksi adanya lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO) akibat penurunan stok minyak sawit dunia.
Proyeksi lonjakan harga CPO pada tahun depan tentunya menggembirakan produsen CPO dalam negeri. Salah satunya PT Astra Agro Lestari Tbk, emiten perkebunan dengan kode saham AALI ini akan meningkatkan produksi.
"Kami akan terus menggenjot produksi CPO pada tahun depan untuk meningkatkan ekspor. Meskipun sekarang kampanye negatif sedang ramai, tapi kami optimistis permintaan dan harga CPO akan tetap naik," kata Head of Public Relation AALI, Tofan Mahdi, di Jakarta, Jumat (29/12/2017).
Minyak sawit, menurut Tofan, bersaing ketat dengan produk minyak nabati lain seperti dari kedelai, bunga matahari dan sejenisnya. Namun begitu, permintaan CPO akan tetap naik.
"Apalagi pada awal tahun depan sejumlah negara akan memasuki musim dingin, dan hal ini akan mendorong permintaan CPO lebih tinggi," papar dia.
Sekadar catatan, volume penjualan CPO AALI dan turunannya pada kuartal III-2017 mencapai 1,26 juta ton, naik 15% dari periode yang sama tahun lalu. Sampai akhir 2017 penjualan CPO AALI diprediksi mencapai 1,72 juta ton.
Berdasarkan data yang dirilis Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), harga CPO pada tahun depan diproyeksi berada di kisaran US$710 hingga US$720 per ton.
Proyeksi itu lebih tinggi dari rata-rata harga CPO tahun ini yang berada di kisaran US$680 sampai dengan US$690 per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








