BORNEONEWS, Sampit - Dalam beberapa tahun terakhir, Sungai Mentaya, terutama di daerah Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) seakan menjadi tempat bagi hewan predator buaya. Hal ini terjadi karena habitatnya sudah rusak, sehingga binatang dilindungi tersebut kerap masuk ke permukiman warga.
Kondisi tersebut menjadi kekhawatiran masyarakat daerah tersebut hingga saat ini. Karena sudah sering warga yang menjadi korbannya. Bahkan saat ini buaya sering menampakan diri ke pemukiman warga.
"Memang selama 2017 kemaren, buaya sering muncul di pemukiman warga. Hal itu terjadi karena habitatnya di dara ini sudah rusak," ujar Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit Muriansyah, Rabu (3/1/2018).
Menurut Muriansyah, munculnya buaya ke pemukiman warga disebabkan karena habitat buaya sudah mulai rusak. Begitu pula dengan kemunculan buaya di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut dan Seranau. Hal itu terjadi karena hewan tersebut ingin mencari makan. Sebab makanan di habitat asalnya sudah mulai habis.
"Dengan adanya hal itu, kami memetakan bahwa beberapa kecamatan tersebut merupakan daerah yang rawan terjadinya konflik antara buaya dan manusia. Oleh karenanya, kami minta warga untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di pinggiran sungai. Agar tidak jadi korban," kata Muriansyah.
Sepanjang tahun 2017, BKSDA Pos Sampit telah menerimana tiga ekor buaya muara yang diserahkan oleh warga. Pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi kepada warga, untuk lebih waspada terhadap serangan buaya. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








