BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi kembali tertekan pada Jumat (5/1/2018) karena pasar mencemaskan tingginya cadangan minyak sawit serta menguatnya mata uang ringgit.
CIMB Equities Research memperkirakan cadangan minyak sawit Malaysia mungkin akan naik sekitar 6% pada tingkat bulanan menjadi 2,7 juta ton pada akhir Desember dari 2,56 juta ton pada November.
Unit riset mereka mengatakan bahwa laporan terbaru dari agribisnis menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap tingginya cadangan minyak sawit.
Sementara itu, sebuah survei yang dilakukan oleh CIMB Futures juga mengungkapkan penurunan output CPO sebesar 5% pada tingkat bulanan pada Desember namun ekspor minyak sawit diperkirakan akan tumbuh 8% pada tingkat bulanan karena permintaan yang kuat dan aktivitas penyimpanan cadangan kembali di India dan Uni Eropa.
Untuk pergerakan ringgit pukul 11:05 WIB terpantau menguat 0,2% di level 3,9960 per dolar AS. Ringgit yang menguat akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.
"Potensi rentang pergerakan hari ini terlihat di antara 2.475,00 - 2.600,00," kata Analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Jumat.
Untuk sisi atasnya, menurut Faisyal, sebelum mengincar area 2.600,00, harga harus menembus ke atas level 2.570,00 terlebih dahulu dan untuk sisi bawahnya sebelum menargetkan ke area 2.475,00, harga harus melewati ke bawah area 2.525 terlebih dahulu. (NEDELYA RAMADHANI/m)


