BORNEONEWS, Pangkalan Bun - CIMB Futures memperkirakan produksi CPO pada Desember 2017 turun 5% secara bulanan (m-o-m), tapi ekspor minyak sawit diestimasi meningkat, terutama berkat tingginya permintaan dari India dan Uni Eropa.
Sementara itu, Bureau of Meteorology Australia (BoM) melaporkan baru-baru ini bahwa fenomena cuaca La Nina terlihat lemah di kawasan Pasifik tropis.
Dampak potensial curah hujan akibat La Nina di kawasan perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan Indonesia dapat berpotensi mengurangi produksi minyak sawit akibat gangguan operasional dan kurang baiknya kualitas tandan buah segar.
“Menurut pantauan kami di lapangan terungkap bahwa potensi La Nina belum berdampak signifikan terhadap operasional para petani. Ada juga kekhawatiran bahwa La Nina dapat memicu curah hujan yang di bawah normal pada Januari hingga Februari di Amerika Utara dan Selatan, yang memicu berkurangnya pasokan kedelai, yang secara langsung akan menguntungkan harga minyak sawit,” ungkap CIMB Futures dalam risetnya akhir pekan lalu.
Untuk sektor perkebunan, CIMB Futures memiliki rekomendasi netral, dan memperkirakan harga CPO akan menguat seiring dengan rendahnya produksi musiman selama periode Januari dan Februari.
Perusahaan riset ini memproyeksikan harga CPO akan bergerak di kisaran RM2.700 per ton pada 2018, dibandingkan RM2.783 per ton pada 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)








