BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Buaya sinyulong atau buaya sapit biasanya berwarna abu-abu kehitaman. Namun, buaya sapit yang dievakuasi petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) pada Selasa (9/1/2018), berwarna putih.
Menurut dokter hewan Lilis Maslikah, Rabu (10/1/2018), dalam beberapa kasus memang ada buaya sapit yang memiliki warna tubuh berbeda dari umumnya.
Hal itu disebabkan dua faktor yakni kelainan genetik dan resesif.
"Bila faktor kelainan genetik, biasanya buaya tersebut menjadi putih pucat atau albino. Bahkan warna matanya juga berwarna putih," sebut Lilis yang bertugas di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kobar.
Tetapi, lanjut dia, bila melihat warna buaya berukuran besar yang dievakuasi dari pinggir Sungai Mengkahing yang merupakan anak Sungai Arut atau di kawasan Desa Batu Agung, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan, buaya tersebut bukan tergolong albino.
"Bisa saja hal ini terjadi lantaran faktir resesif. Faktor ini terjadi lantaran ada letal gen dominan yang mengalahkan gen lain. Diperkirakan warna hitam biasanya terlihat pada kulit buaya, kalah oleh warna putih. Sehingga warnanya cemderung terang," ungkapnya.
--page
Faktor ini, lanjutnya, bisa terjadi pada sekitar 25% dari jumlah populasi buaya di dunia.
"Tetapi, untuk mengetahui penyebabnya, sebaiknya dilakukan pemeriksaan genetik melalui laboratorium pada buaya tersebut. Sehingga bisa diketahui secara ilmiah," ucap Lilis.(WAHYU KRIDA/B-3)








