JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi kembali melemah,dengan investor mempertimbangkan kejatuhan harga komoditas lain seperti gandum dan minyak mentah serta menguatnya ringgit. 

Nilai kontrak harga gandum berjangka di Chicago anjlok hampir 3 persen pada akhir pekan lalu dan mencetak penurunan harian terbesar setelah Departemen Pertanian AS menunjukkan jumlah produksi gandum musim dingin yang lebih besar dari perkiraan. 

Sementara harga minyak mentah WTI bergerak turun pada Senin karena kecemasan investor terhadap data dari Baker Hughes yang melaporkan adanya peningkatan aktivitas pengeboran di Amerika Serikat yang memberikan sinyal untuk potensi terjadinya kenaikan output di masa mendatang.

Untuk pergerakan ringgit pukul 11:23 WIB terpantau menguat 0,32% di level 3,9575 per dolar AS. Ringgit yang menguat akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya. 

"Pada hari ini investor nantikan data ekspor untuk periode 1-15 Januari dari perusahaan kargo Intertek Testing Services dan Surveillence de Generale untuk petunjuk permintaan global," kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Senin. 

--page

Menurut Faisyal, potensi pergerakan harga CPO pada hari ini terlihat di rentang antara 2.415 - 2.530 ringgit per ton. 

"Untuk sisi bawahnya, sebelum mengincar ke area 2.415, harga harus menembus ke bawah level 2.450 terlebih dahulu, dan untuk sisi atasnya, sebelum menguji ke area 2.530, harga harus menembus atas level 2.500. (NEDELYA RAMADHANI/m)