BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga CPO berpotensi untuk melanjutkan kenaikannya pada Selasa (23/1/2018) setelah kemarin ditutup menguat lebih dari 1% berkat sentimen bullish dari konferensi di Karachi, Pakistan, pekan ini.
Pada Senin, harga minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik 1,2% di level 2.475 ringgit per ton, mencetak kenaikan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan.
Dua analis industri di konferensi minyak nabati di Karachi mengatakan bahwa harga minyak sawit dapat naik ke kisaran 2.700 ringgit per ton di kuartal pertama karena produksi diperkirakan akan turun pada basis musiman.
"Tren musiman akan memicu kenaikan dalam level produksi dan diperkirakan akan memicu penurunan harga setelah kuartal pertama," kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Selasa.
Sementara itu, trader mengatakan kenaikan harga minyak nabati lainnya juga memberikan dukungan terhadap minyak sawit.
--page
Nilai kontrak minyak kedelai untuk periode Maret di Chicago Board of Trader kemarin berakhir naik 0,4%, dan nilai kontrak minyak kedelai bulan Mei di Dalian Commodity Exchange ditutup 0,8% lebih tinggi.
Untuk pergerakan ringgit hingga pukul 11:14 WIB terpantau menguat 0,2% di level 3,9270 per dolar AS. Ringgit yang menguat akan menjadi katalis negatif harga CPO karena akan membuat harga menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.
"Untuk level resisten terdekat terlihat di area 2.490, dan bila menembus ke atas dari area tersebut dapat mendorong kenaikan lanjutan menuju ke 2.535," ujar Faisyal.
Sedangkan untuk sisi bawahnya, menurut dia, area support terdekat terlihat di 2.445, dan jika break di bawah level tersebut dapat memicu penurunan lanjutan untuk membidik support kuat di 2.425. (NEDELYA RAMADHANI/m)








