BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan berada di atas level psikologis RM2.400 per ton dalam jangka pendek seiring dengan musim produksi rendah mulai Januari hingga Februari.
Namun demikian, sejumlah analis menyebutkan bahwa tren pelemahan harga masih akan berlanjut akibat melimpahnya cadangan, baik di Malaysia maupun Indonesia.
Beberapa faktor penekan harga, seperti meningtanya stok, melemahnya ekspor, kemungkinan kenaikan pajak impor di sejumlah negara pengimpor besar, seperti India, serta kekhawatiran atas larangan ekspor minyak sawit ke Eropa, akan mewarnai perdagangan hingga akhir tahun ini.
Melimpahnya pasokan kedelai di pasar, yang dapat menekan harga kedelai, juga bakal berimbas pada harga minyak sawit.
Lembaga riset UOB Kay Hian juga melihat prospek negatif pada perusahaan perkebunan hulu karena rendahnya harga CPO akan berimbas pada pendapatan mereka dan juga menekan harga saham mereka.
--page
UOB Kay Hian juga menyebutkan bahwa hanya perusahaan yang mampu mencatat pertumbuhan produksi tandan buah segar sawit yang dapat meminimalkan dampak negatif dari melemahnya harga CPO.
Menurut UOB Kay Hian, lemahnya prospek permintaan dapat berakibat pada meningkatnya stok. Mereka memperkirakan harga CPO akan bergerak dalam tren penurunan di antara RM2.400 hingga RM2.700 per ton mulai Januari hingga April akibat lesunya permintaan dan beragam berita negatif yang beredar di pasar.
Mulai 18 Mei dan seterusnya, UOB Kay Hian mempertahankan perkiraan mereka bahwa tren penurunan harga CPO berada di kisaran RM2.200-RM2.400 per ton seiring dengan meningkatnya produksi.
Adapun katalis potensial terhadap harga CPO adalah musim basah La Nina yang akan mengganggu produksi kedelai dan mengikis cadangan. Kondisi ini akan memicu kenaikan harga kedelai, yang tentunya positif bagi harga CPO.
Katalis lainnya adalah rencana pengajuan perpanjangan pemberian subsidi kepada segmen non-Public Service Obligation di Indonesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








