BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga CPO yang turun sekitar 1% pada perdagangan Jumat (26/1/2018), kemungkinan penurunan itu berlanjut pada Senin ini (29/1/2018).
Kondisi itu dipengaruhi oleh pergerakan kurs ringgit Malaysia. Terpantau kurs ringgit saat ini berada di level terkuat sejak 20 April 2016 terhadap dolar AS.
Akselerasi penguatan kurs ringgit terjadi sejak Kamis (25/1/2018) ketika bank sentral Malaysia menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun terakhir. Inflasi yang merangkak naik, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus menjadi alasan bank sentral Malaysia menaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 3,25%.
"Di sisi lain, dolar AS sedang mengalami tekanan setelah pemerintah AS terkesan 'mensyukuri' pelemahan dolar. Menteri Keuangan AS pada pekan lalu mengatakan pelemahan dolar akan bagus untuk perekonomian AS," kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya di Jakarta, Senin (29/1/2018).
Sementara itu, hasil polling Reuters menunjukkan produksi CPO di Indonesia dan Malaysia diprediksi meningkat tahun ini, masing-masing menjadi 37,8 juta ton dan 20,5 juta ton. Peningkatan tersebut akibat pulihnya produksi setelah efek El-Nino mulai menghilang.
--page
"Dua faktor tersebut berpotensi melemahkan harga CPO, dengan rentang perdagangan potensial 2.460 - 2.515 ringgit per ton," imbuh Monex. (NEDELYA RAMADHANI/m)








