PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya penangkapan buaya pemangsa manusia oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng bersama warga di Sungai Sebangau, Kabupaten Pulang Pisau diwarnai berbagai rintangan.

Pasalnya, pada saat melakukan penyisiran lokasi sekaligus berusaha menjerat buaya, tim malah tidak mendapati sang predator ganas tersebut. Tim akhirnya beralih menggunakan metode pancing dengan umpan itik dan monyet hingga berbuah hasil.

Buaya sepanjang 5,18 meter dengan lebar 70 cm tertangkap pada Jumat (2/2/2018). Namun ketika ditemukan, buaya telah mati.

Seperti apa cerita lengkap proses penangkapan buaya yang diyakini memangsa Aman (30) warga RT 02, RW 01, Desa Sebangau Jaya, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Sabtu (20/1/2018) lalu? Berikut penjelasan Kepala BKSDA Kalteng Adib Gunawan.

1. Tim turun ke lokasi sebagai tindak lanjut adanya serangan buaya terhadap masyarakat desa Sebangau Jaya yang mengakibatkan korban jiwa atas nama Aman pada saat mencari ikan/udang.

--page

2. Tim turun ke lapangan pada hari Senin tanggal 29 Januari pukul 10.00 WIB, menuju ke Desa Sebangau Jaya dan sampai di desa sekitar pukul 16.30. Tim segera mencari informasi terkait kejadian penyerangan buaya terhadap warga desa tersebut.

3. Pada 30 Januari, tim bersama masyarakat melakukan pengecekan ke lokasi guna melakukan upaya penangkapan/penjeratan buaya. Namun kondisi sungai yang sangat luas (lebar -+ 100 m) serta langsung bermuara ke laut, tim tidak dapat menemukan keberadaan buaya tersebut. Tim bersama masyarakat memutuskan untuk menggunakan metoda pancing/umpan dengan menempatkan umpan pada lokasi-lokasi yang sering terlihat penampakan buaya yang memangsa manusia. Sore hari tim kembali ke desa untuk istirahat. Pada malam hari tim tidak dapat melakukan pengecekan karena untuk menuju lokasi tersebut dari Desa Sebangau Jaya melalui lautan yang pada saat itu sedang pasang serta berangin dan berombak besar.

4. Pada tanggal 31 Januari pagi, tim melakukan pengecekan umpan di lokasi. Tim menemukan beberapa umpan tergeletak di atas permukaan tanah/pantai sebagai akibat dari hempasan ombak semalam. Beberapa umpan yang terhempas tersebut telah habis, namun diperkirakan yang memangsa adalah biawak bukan buaya pemangsa manusia. Tim mencari umpan baru sambil menata umpan yang hancur karena ombak. Setelah selesai, pada sore hari tim kembali ke desa untuk istirahat. Pada kesempatan tersebut, tim berkunjung ke istri korban untuk mengucapkan belasungkawa. Pada malam hari tim kembali gagal untuk melakukan pengecekan karena kondisi lautan tidak bersahabat yang bersamaan dengan gerhana bulan total.

--page

5. Pada 1 Februari pagi, tim kembali melakukan pengecekan ke lokasi. Umpan yang terpasang masih pada posisi semula tanpa ada yang memakan. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, tim memutuskan untuk koordinasi ke warga bahwa tim tidak dapat bertahan di lokasi lebih lama karena masih terdapat laporan satwa liar lain beruang di Tumbang Manggu, bayi orangutan di Tumbang Senamang yang juga harus mendapatkan penanganan.

6. Pada 2 Januari, tim mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa umpan yang kemarin berhasil disambar buaya. Tim segera berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan mendapatkan info bahwa buaya yang didapat sudah dalam kondisi mati dan masyarakat meyakini bahwa memang buaya tersebut yang memangsa Aman. Setelah berkoordinasi, tim menganjurkan kepada pihak kecamatan untuk menguburkan buaya tersebut. (BUDI YULIANTO/B-5)