JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit (CPO) berpeluang untuk bergerak naik pada Senin (5/2/2018) berkat pernyataan optimistis China dan Swedia serta melemahnya mata uang ringgit.

Duta Besar China untuk Malaysia, Bai Tian, mengatakan bahwa China akan mengimpor lebih banyak minyak sawit dari Malaysia. Pihaknya tidak akan menetapkan batasan untuk impor.

Sementara itu, Duta Besar Swedia untuk Malaysia, Juhlin-Dannfelt, mengatakan Swedia menentang resolusi Uni Eropa untuk tidak menggunakan minyak nabati dalam energi terbarukan. 

Dia juga mengatakan bahwa karena minyak sawit harus dihentikan impornya, sedangkan minyak nabati lain tidaK, maka usulan Uni Eropa dipandang diskriminasi. Swedia dan banyak negara Eropa lainnya yang merupakan anggota Uni Eropa menentang segala bentuk diskriminasi. 

"Untuk pergerakan ringgit pukul 11:22 WIB terpantau melemah 0,3% di level 3,8975 per dolar AS. Ringgit yang melemah akan membuat produk minyak sawit menjadi lebih murah untuk pemilik mata uang lainnya," kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Senin (5/2/2018). 

--page

Potensi pergerakan pada hari ini terlihat di rentang antara 2.430 - 2.525. Untuk sisi atasnya, sebelum menargetkan ke area 2.525, harga harus menembus atas level 2.500 terlebih dahulu.

"Sedangkan untuk sisi bawahnya, sebelum membidik support di 2.430, harga harus melewati level 2.460," imbuhnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)