BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Lantunan selawat yang diiringi tetabuhan rebana dan tamborin terdengar di Masjid At Taubah di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Dengan merdu sekitar 20 orang laki-laki berbusana gamis dan sarung tersebut melantunkan syair pujian pada Allah SWT dan Nabi Muhamad SAW.
Pimpinan Jamaah Selawat At Taubah Budi Suprihandoko (37) menjelaskan tujua digelarnya kegiatan keagamaan ini.
"Sesuai dengan nama jamaah selawat kita At Taubah. Kita bertaubat dari segala perbuatan buruk di masa lalu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi di masa depan," ujar Budi yang terpaksa harus menjalani masa hukuman 4 tahun lantaran kasus narkoba ini dengan nada optimis.
Menurutnya, setiap hari usai salat ashar di Masjid At Taubah, juga digelar pelajaran membaca Al Quran, mengaji kitab kuning bahkan menghafalkan Al Quran atau Tahfiz.
--page
"Semoga Allah mengampuni segala perbuatan saya di masa lalu. Ibaratnya jadi orang yang beribadah di balik tahanan dan sebagai orang bebas memang beda rasanya. Di dalam sini kita merasa terkucil, namun dengan mendekatkan diri pada Allah dengan beribadah, rasa terkucil dan stres rasanya hilang. Karena bagi saya sangat terasa bahwa hanya Allah yang mampu menolong saya melewati saat yang sulit," ujarnya.
Selain Budi, ada lagi narapidana yang turut menghidupkan syiar agama Islam di dalam LP.
Dia adalah Ustaz Irianur yang terpaksa menjadi narapidana di LP Klas II Pangkalan Bun lantaran tersandung kasus kegagalan memberangkatkan jamaah umrah.
Kepada borneonews.co.id Ustaz Irianur mengatakan, ia sendiri sangat bersyukur melihat rekan-rekannya sesama narapidana terlihat antusias saat diajak mengaji dan beribadah di masjid.
--page
"Selain mereka dapat izin untuk keluar blok untuk beribadah dan belajar mengaji, mengikuti maulid habsyi dan tahfiz , rata-rata peserta yang kebanyakan tersangkut kasus narkoba ini, memang ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik," ujar Irianur.
Ia sendiri mengaku tetap bersyukur pada Allah walau terpaksa harus menjalani kehidupan selama 2,5 tahun menjadi narapidana.
"Bila tidak ada kesempatan seperti ini, tidak mungkin saya bisa berbagi ilmu masalah agama Islam seperti yang didapatkan di pesantren dulu, setiap hari pada rekan -rekan saya di sini. Alhamdulillah," ujar Irianur dengan raut wajah tenang.
Ia juga mengaku sangat senang melihat beberapa rekannya sesama narapidana yang dulunya masih belum bisa membaca Al Quran sama sekali, tetapi saat ini sudah sangat lancar.
"Bahkan ada yang sudah mulai belajar menghafalkan Al Quran. Semoga mereka bisa dimudahkan Allah agar bisa menjadi salah seorang penghafal Al Quran. Amin," ujar Irianur. (WAHYU KRIDA/B-5)








