BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) masih berpotensi melanjutkan penurunannya pada Rabu (7/2/2018) karena outlook tingginya produksi dan menguatnya mata uang ringgit Malaysia.
Pada perdagangan Selasa, harga CPO berakhir turun 0,8% di level 2.470 ringit per ton, membukukan penurunan untuk tiga dari empat sesi terakhir karena kejatuhan pasar saham yang dipicu kenaikan tajam dalam imbal hasil obligasi AS.
"Saat ini fokus investor akan tertuju pada laporan produksi minyak sawit Malaysia, yang berdasarkan survei Reuters diperkirakan akan naik 0,6% di bulan Januari menjadi 2.75 juta ton, yang akan menjadi rekor tertinggi dalam dua tahun, karena ekspor kemungkinan akan berada di bawah level output," kata Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Rabu.
Untuk pergerakan ringgit sendiri, pada pukul 11:30 WIB terlihat menguat 0,2% di level 3.9075 per dolar AS. Ringgit yang menguat akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal yang dapat mempengaruhi tingkat permintaan.
"Harga minyak sawit terlihat akan melemah dalam jangka pendek dengan target support terdekat terlihat di 2.465, dan break di bawah level tersebut dapat memicu penurunan lebih lanjut untuk menguji level support selanjutnya di 2.440," ujarnya.
--page
Sementara itu, untuk sisi atasnya, level resisten terdekat berada di 2.500, break di atas zona tersebut dapat mendorong kenaikan lanjutan menuju ke level 2.525. (NEDELYA RAMADHANI/m)








