JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sektor kelapa sawit masih menghadapi tantangan dari rendahnya penyerapan Crude Palm Oil (CPO) di kawasan Eropa dan Amerika.

"Adanya substitusi minyak kedelai membuat penyerapan melemah, ditambah lagi pasokan CPO sedang meningkat. Sehingga harga jual CPO cenderung tertekan. Kalau dibilang ada over supply saya kurang setuju, saya lebih setuju mengatakan, harga kembali normal," kata analis Senior Henan Putihrai Sekuritas, Yosua Zisokhi, dalam risetnya.

Pada tahun lalu, rata-rata harga CPO berkisar di RM 2.600 hingga RM 2.700 per ton. Hal ini merupakan imbas penurunan pasokan karena adanya efek El-Nino di awal tahun. 

Lalu, harga CPO di 2016 kurang lebih ada di kisaran RM 2.600 dan di RM 2.300 per ton pada 2015. Setelah efek El-Nino hilang dan permintaan kembali tumbuh perlahan, maka harga CPO di kisaran sekarang RM 2.400 sampai dengan RM 2.500 dinilai wajar.

Yosua masih memandang positif sektor ini. Permintaan yang masih tinggi dari China, India dan dalam negeri, terutama untuk biofuel, akan menopang sektor ini.

--page

"Biofuel seperti biodiesel akan cukup diminati seiring dengan kenaikan yang terjadi pada harga minyak mentah dunia. Apalagi, adanya CPO fund yang diusung oleh pemerintah juga membuat penyerapan biofuel seharusnya cukup baik," papar dia.

Dari sisi produksi, Yosua menilai tidak ada masalah dari cuaca ekstrem seperti La-Nina. Namun, masih diberlakukannya moratorium pembukaan lahan, membuat produksi CPO dari emiten akan cenderung stagnan.

"Pada pekan ini, harga CPO cenderung meningkat dan memasuki level RM 2.500. Berbeda dengan awal bulan Februari yang berada di bawah RM 2.500 per ton," ujarnya.

Yosua masih merekomendasikan saham AALI dan LSIP karena keduanya merupakan emiten yang memiliki luas lahan paling banyak dibandingkan emiten lain. 

"Buy AALI dengan target harga Rp 18.050 dan LSIP dengan target Rp 1.710," tutur Yosua. (NEDELYA RAMADHANI/m)