BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) sudah terjadi sejak akhir tahun lalu hingga sekarang. Beberapa faktor pemicunya antara lain menguatnya ringgit Malaysia, rendahnya permintaan dan tingginya stok.
Data terbaru dari ITS dan SGS menyebutkan bahwa ekspor CPO periode 1-31 Januari adalah masing-masing turun 9,3 persen dari 1,422 juta ton menjadi 1,29 juta ton, dan turun 8,81 persen menjadi 1,322 juta ton dari 1,439 juta ton.
Tapi tekanan terhadap harga CPO sedikit teredam dengan keputusan Malaysia yang menunda pajak ekspor CPO selama tiga bulan mulai 8 Januari 2018, sehingga dapat mengurangi stok di negeri jiran itu. Namun demikian, kebijakan itu tidak terlalu signifikan dalam menahan laju pelemahan harga CPO saat ini.
Malaysia dan Indonesia saat ini juga masih cemas terhadap keputusan Parlemen Eropa yang akan melarang penggunaan minyak sawit dalam pembuatan biofuel.
Larangan ini diperkirakan berlaku mulai 2021. Jika kebijakan itu jadi dilaksanakan, itu akan mengancam pendapatan sejumlah negara penghasil minyak sawit, seperti Malaysia, Indonesia dan Thailand, yang selama ini melakukan ekspor dalam jumlah besar ke Uni Eropa.
--page
Faktor lain yang menjadi penyebab harga CPO turun adalah menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia. Menguatnya ringgit menyebabkan harga CPO akan lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, dan ini akan mengurangi daya beli dari semua negara pengimpor minyak sawit.
Faktor penekan lain yang tak bisa diremehkan adalah meningkatnya stok minyak sawit seiring dengan meningkatnya produksi pasca La Nina. Harga CPO rontok sejak November 2017.
Berdasarkan laporan dari MPOC, cadangan minyak sawit Malaysia pada Januari 2016 mencapai 2,309 juta ton, kemudian turun menjadi 1,541 juta ton pada Januari 2017, dan naik lagi menjadi 2,548 juta ton pada Januari 2018. Tingginya stok menyebabkan produsen mengeluarkan banyak biaya untuk menjaga agar kualitas minyak sawit terjaga.
Saat ini sektor sawit, menurut pelaku pasar di Jakarta, Senin (26/2/2018), butuh sejumlah katalis positif untuk mendongkrak harga.
Banyak pemain industri dan analis yang memprediksi harga rata-rata CPO pada 2018 berada di kisaran RM2.400 hingga RM2.800 per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








