BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ada sejumlah faktor yang memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit mentah (CPO) belakangan ini, seperti kenaikan bea masuk minyak nabati di India dan juga penurunan impor CPO oleh China.
India telah menaikkan bea masuk (BM) untuk CPO dan produk turunannya ke level tertinggi dalam lebih sedasawarsa terakhir. Langkah itu dilakukan Pemerintah India untuk melindungi petani lokal yang memasok minyak nabati. Kenaikan BM tersebut akan mendongkrak harga oilseed yang menjadi komoditas utama negeri itu untuk memenuhi kebutuhan akan minyak nabati.
India menaikkan BM terhadap CPO menjadi 44 persen dari 30 persen dan menaikkan BM untuk turunan minyak sawit menjadi 54 persen dari 40 persen. Untuk diketahui, India menjadi salah satu pengimpor minyak nabati terbesar dunia, dengan volume impor sebesar 70 persen, naik dari 44 persen pada 2001/2002.
Faktor lain yang menekan CPO adalah prediksi penurunan impor CPO oleh China seiring dengan meningkatnya pembelian minyak kedelai di negeri itu.
China, yang mengapalkan lebih dari 60 persen kedelai di pasar global, melakukan pembelian dalam jumlah terbesar pada 2017 berkat tingginya permintaan terhadap pakan ternak berbasis kedelai.
--page
“Permintaan China akan minyak edibel tidak tumbuh secepat permintaan terhadap makanan, sehingga pasokan kedelai melimpah," kata analis kawakan, MR Chandran. Menurut dia, China sekarang membeli lebih banyak kedelai dan permintaan itu utamanya didorong oleh meningkatnya konsumsi pakan ternak berbasis kedelai.
Sedangkan impor kedelai China pada 2017 menyentuh level tertinggi sepanjang masa di angka 95,54 juta ton, naik 13,9 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 83,91 juta ton. Untuk impor minyak sawit oleh China pada 2017/18 diperkirakan turun menjadi 4,8 juta ton, dibandingkan 4,881 juta ton pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, harga minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivative Exchange menguat sekitar 2 persen pada Februari setelah melemah dalam tiga bulan terakhir.
Pelaku pasar di Jakarta, Selasa (6/3/2018), menyatakan harga minyak sawit kemungkinan menguji kembali level support RM2.448 per ton, dan jika break di bawah level itu dapat turun lagi ke level support berikutnya di RM2.418.
Level support itu teridentifikasi seiring dengan tren kenaikan RM2.418 menjadi RM2.641.
--page
Sedangkan tren pelemahan masih akan terjadi sepanjang harga berada di bawah RM2.418. Dan bila break di atas RM2.418, harga CPO terbuka peluang untuk bergerak menuju RM2.503. (NEDELYA RAMADHANI/m)








