JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit (CPO) berpotensi mengalami kenaikan signifikan menuju RM2.700 per ton pada Juni, yang akan menjadi harga acuan tertinggi sejak November 2017. 

Kondisi itu didorong oleh pemangkasan produksi yang akan diterapkan pada petani lokal Indonesia dan Malaysia, yang masing-masing sebesar 500.000 ton menjadi 37,5 juta ton dan 20,5 juta ton. 

"Situasi ini diprediksi juga turut mendongkrak harga CPO di Rotterdam menjadi $750 per ton," kata Tim Analis PT Monex Investindo Futures dalam risetnya, Rabu (7/3/2018). 

Di tengah rancangan yang disetujui oleh Uni Eropa mengenai reformasi tenaga listrik dan mengurangi konsumsi energi memenuhi tujuan iklim yang ambisius. Draft rancangan tersebut meliputi larangan penggunaan CPO sebagai bahan bakar motor yang akan diterapkan efektif pada 2021.  

Menurut analis Godrej International Ltd, Dorab Mistry, harga CPO tidak akan turun di bawah US$1.000 per ton. Prediksi ini berdasarkan asumsi minyak mentah Brent yang berada pada kisaran $60 hingga $75. Selain itu Federal Reserve (bank sentral AS) tetap pada skenarionya untuk menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini. 

--page

Dolar AS diperdagangkan dengan pergerakan sideways atau melemah di tengah stabilnya mata uang di pasar negara berkembang dan seiring dengan pertumbuhan di seluruh dunia yang kuat di bawah 5%. (NEDELYA RAMADHANI/m)