JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan bergerak di rentang RM2.400 hingga RM2.600 per ton pada kuartal III/2018.

Prediksi itu diungkapkan CEO Triputra Agro Persada Group, Arif P. Rachmat, saat memberikan paparan dalam 29th Palm and Lauric Oils Price Outlook Conference and Exhibition (POC2018) di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (8/3/2018). 

Dalam paparannya, Arif juga menyebutkan bahwa tahun lalu nilai ekspor minyak sawit Indonesia mencapai total US$23 miliar atau sekitar Rp317,14 triliun.

Arif memperkirakan harga CPO akan tetap stabil di antara level US$600 hingga US$650 per ton atau RM2.400 hingga RM2.600 per ton hiangga kuartal III tahun ini berkat dukungan permintaan dari sejumlah negara importir besar.

“Kami melihat kuatnya produksi di Indonesia dan Malaysia sebesar 3,6 juta ton tahun ini. Meski produksi tinggi, tapi kuatnya permintaan global akan membuat stok minyak sawit di Indonesia, Malaysia, India dan China tetap moderat dibandingkan posisi Desember 2017 yang mencapai 7,8 juta ton,” ujarnya, seperti dilansir New Straits Times.

--page

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Chairman LMC International Ltd, Dr James Fry, menyatakan bahwa dukungan terhadap harga CPO juga datang dari kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia.

Ia juga menjelaskan bahwa harga CPO juga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia. 

Menurut Fry, sepanjang OPEC tetap dengan kebijakan memangkas produksi untuk mendukung harga minyak mentah di kisaran US$65 dan US$70 per barrel, maka minyak edibel akan terus diperdagangkan di atas US$500 per ton.

“Dana Pungutan Sawit yang diterapkan pemerintah Indonesia telah menjadi pengubah permainan sejak diluncurkan pada 2015, dan ini menjadi pendukung utama ketika dana tersebut dipergunakan untuk meningkatkan penggunaan biodiesel," katanya.

“Saya melihat harga minyak sawit akan menguat menuju RM2.600 per ton dan kemudian turun ke posisi RM2.300 pada Juli 2018,” imbuh Fry. (NEDELYA RAMADHANI/m)