SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Jumiati (45), warga Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami dampak trauma setelah ia diserang buaya

Akibat serangan buaya tersebut, saat ini ia tidak berani sama sekali pergi ke lanting (tempat mandi cuci di sungai). Bahkan hanya sekadar mendekati Sungai Mentaya pun selalu ia urungkan.

"Aduh untuk sementara saya tidak berani sama sekali, walaupun di lanting banyak orang," ujar Jumiati, ketika diminta menunjukkan lokasi ia diserang buaya, Jumat (9/3/2017).

Ia mengaku sangat bersyukur bisa selamat dari serangan hewan ganas tersebut. Karena dia dengan cepat menarik cakaran buaya itu, dan gigitan ke tangan kanannya terhalang oleh kayu di lanting tempat dirinya mencuci pakaian.

"Kalau saya sempat terbawa hingga ke dalam sungai, mungkin saya akan susah menyelamatkan diri. Tetapi syukurlah terkaman mulut hewan tersebut terhalang kayu di lanting. Sehingga saya berhasil menyelamatkan diri," kata Jumiati.

--page

Ia mengungkapkan bahwa saat ini tangannya masih merasakan sakit, baik itu sebelah kanan maupun kiri, akibat gigitan dan cakaran buaya tersebut.

Bahkan tangannya masih di perban, agar darah maupun obat-obatan yang digunakannya bisa bereaksi.

"Saya menggunakan ramuan tradisional untuk membuang bisa gigitan dan cakaran buaya tersebut. Dan mudah-mudahan cepat sembuh luka ini," terang Jumiati.

Saat ini buaya tersebut masih sering muncul di sekitar lokasi kejadian. Terutama pada saat siang dan juga sore hingga malam hari. Sehingga dengan adanya hal tersebut maka warga harus berhati-hati saat beraktivitas di waktu tersebut. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)