BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) memasuki medio pekan ini mendapat sentimen positif dari turunnya cadangan minyak sawit Malaysia, yang notabene adalah penghasil CPO terbesar kedua dunia.
Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/3/2018), Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyatakan total cadangan minyak sawit pada Februari 2018 turun 2,85 persen menjadi 2,48 juta ton, dibandingkan dengan 2,55 juta ton pada Januari 2018.
Menurut MPOB, stok CPO turun 0,8 persen month-on-month (m-o-m) menjadi 1,56 juta ton dari sebelumnya 1,57 juta ton.
Sedangkan stok untuk minyak sawit olahan berkurang 6,15 persen m-o-m menjadi 916.309 ton dari 976.389 ton pada Januari 2018. Pada periode yang sama, produksi CPO m-o-m turun menjadi 1,34 juta ton dari 1,59 juta ton. Untuk produksi palm kernel turun menjadi 340.708 ton, dari 418.424 ton pada bulan sebelumnya.
Dari sisi ekspor, pengiriman biodiesel pada Februari melonjak menjadi 34.875 ton m-o-m, dibandingkan 33.087 ton pada bulan sebelumnya, sedangkan ekspor minyak sawit turun menjadi 1,31 juta ton dari 1,51 juta ton.
--page
Namun demikian, MPOB mengatakan ekspor palm kernel oil naik menjadi 108.017 ton dari 72.938 ton.
Jika melihat menurunnya cadangan minyak sawit Malaysia pada Februari, itu akan menjadi sentimen positif bagi pasar. Akan tetapi, volume ekspor minyak sawit yang menurun dapat menahan pergerakan harga, kata seorang pelaku pasar di bursa komoditas Jakarta, Selasa.
Untuk diketahui, sejak awal 2018 hingga saat ini, harga minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivatives Market bergerak rata-rata di kisaran RM2.500 per ton.
Direktur Eksekutif Oil World, Thomas Mielke, sebelumnya mengatakan produksi minyak sawit global diperkirakan meningkat menjadi 70,84 juta ton tahun ini dari 67,87 juta ton pada 2017, yang didukung sebagian oleh produksi di Indonesia sebanyak 38,8 juta ton.
Ia memperkirakan produksi minyak sawit Malaysia mencapai 20,76 juta ton tahun ini, atau 4,2 persen lebih besar dari 19,92 juta ton pada 2017.
--page
Indonesia dan Malaysia menghasilkan sekitar 85 persen dari produksi total minyak sawit global.
“Meski pasokan terlihat cukup besar, tapi permintaan global untuk minyak nabati tinggi untuk kebutuhan makanan dan biodiesel,” ujar Mielke, seperti dikutip New Straits Times.
Ia menjelaskan harga CPO dan minyak nabati pesaing, yakni minyak kedelai, akan bergerak sideways atau menguat tipis dalam tiga hingga lima pekan ke depan, tapi akan melemah mulai akhir April dan setelahnya.
“Harga minyak sawit diperkirakan diperdagangkan di kisaran US$630 dan US$600 (RM2.300 hingga RM2.500) per ton tahun ini,” sebut Mielke. (NEDELYA RAMADHANI/m








