JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) pada penutupan perdagangan Senin (12/3/2018) ditutup di RM2.381 dengan potensi jual yang masih terus membayangi pada pekan ini. 

"Di tengah tingginya persediaan dan ekspor yang diperkirakan tidak terlalu besar ke China, ditambah dengan sentimen negatif yang timbul dari kenaikan pajak impor terbesar di India dalam satu dekade, pelaku pasar percaya bahwa harga CPO tetap dalam peluang penurunan harga," kata analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Pada perdagangan hari ini harga CPO menyentuh level RM2.390, dengan terbuka peluang pelemahan menuju RM2.303, menurut Reuters. 

"Peluang pelemahan harga dapat terjadi dengan acuan support RM2.468 (s1), RM2.440 (s2), dan RM2.385 (s3)," kata Arie. 

Adapun resisten harga CPO kali ini, katanya, berada di kisaran RM2.551 (r1), RM2.606 (s2), dan RM2.634 (s3).

--page

Sebelumnya dalam keterangan tertulisnya, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menyatakan total cadangan minyak sawit pada Februari 2018 turun 2,85 persen menjadi 2,48 juta ton, dibandingkan dengan 2,55 juta ton pada Januari 2018.

Menurut MPOB, stok CPO turun 0,8 persen month-on-month (m-o-m) menjadi 1,56 juta ton dari sebelumnya 1,57 juta ton.

Sedangkan stok untuk minyak sawit olahan berkurang 6,15 persen m-o-m menjadi 916.309 ton dari 976.389 ton pada Januari 2018. Pada periode yang sama, produksi CPO m-o-m turun menjadi 1,34 juta ton dari 1,59 juta ton. Untuk produksi palm kernel turun menjadi 340.708 ton, dari 418.424 ton pada bulan sebelumnya.

Dari sisi ekspor, pengiriman biodiesel pada Februari melonjak menjadi 34.875 ton m-o-m, dibandingkan 33.087 ton pada bulan sebelumnya, sedangkan ekspor minyak sawit turun menjadi 1,31 juta ton dari 1,51 juta ton.

Namun demikian, MPOB mengatakan ekspor palm kernel oil naik menjadi 108.017 ton dari 72.938 ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)