BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada sesi pertama perdagangan Senin (26/3/2018), pergerakan harga CPO sempat berada pada level RM2.417 per ton, di tengah beragamnya sentimen di pasar.
"Namun demikian, peluang untuk penguatan perlu adanya penembusan harga pada level resisten di kisaran RM2.4664 (r1), RM2.483 (r2), dan RM2.500 (r3)," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Senin (26/3/2018).
Selain itu, kata Arie, juga berpotensi terjadi pelemahan harga CPO dengan acuan support pada kisaran RM2.411 (s1), RM2.389 (s2), dan RM2.366 (s3).
Adapun pada perdagangan Jumat (23/3/2018), harga CPO ditutup pada level RM2.428, ditutup lebih rendah dari hari perdagangan sebelumnya.
"Terjawab sudah penantian pelaku pasar akan pergerakan harga yang sejak awal pekan berada di zona hijau, yang harus terhenti pada hari Jumat kemarin," ucapnya.
--page
Di saat euforia pelaku pasar mengenai Indonesia telah memenangkan banding terhadap Uni Eropa dalam sengketa perdagangan atas biodiesel di Pengadilan Tertinggi Uni-Eropa mulai mereda, kemudian kabar dari Pemerintah Malaysia yang tetap pada sikapnya tidak berencana memperpanjang atau bahkan merevisi penangguhan pajak ekpor CPO setelah 7 April 2018, menjadi salah satu alasan yang menjadi pemicu turunnya harga CPO menutup perdagangan pekan lalu.
Untuk pemicu lain yang juga akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk perdagangan awal pekan ini, kata Arie, adalah apakah harga CPO akan mengikuti jejak dari penurunan harga minyak mentah dunia yang sejak awal perdagangan Senin ini mengalami pelemahan harga.
Faktor penahan harga CPO lainnya, menurut Arie, juga mengenai kenaikan produksi CPO Malaysia pada Maret yang tampak lebih lambat dari yang diperkirakan, di mana untuk produksi pada negara bagian timur Sabah dan Serawak ini mencapai 50% dari total produksi Malaysia, serta di saat yang sama kurs Ringgit Malaysia belum menguat signifikan terhadap dollar Amerika Serikat. (NEDELYA RAMADHANI/m)








